Kantong Warga AS Bobol Rp 36 Triliun Gara-Gara Penipuan di Medsos, Platform Ini Jadi Sarang Utama Cahaya Cinta, May 1, 2026 FTC Ungkap Lonjakan Penipuan Medsos yang Rugikan Warga AS hingga Rp36 Triliun Liputan6.com, Jakarta – Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat mengungkap peningkatan tajam kerugian akibat penipuan online yang bermula dari media sosial. Sepanjang 2025, nilai kerugian warga Amerika Serikat mencapai lebih dari USD 2,1 miliar atau sekitar Rp36 triliun, melonjak drastis dibandingkan tahun 2020. Data yang dihimpun melalui Consumer Sentinel Network menunjukkan hampir sepertiga korban penipuan mengaku pertama kali dihubungi melalui platform media sosial. Kondisi ini menempatkan media sosial sebagai jalur penipuan paling merugikan, melampaui metode pesan teks maupun email. Penipu Manfaatkan Facebook sebagai Kanal Utama Hasil investigasi memperlihatkan bahwa sebagian besar kelompok usia melaporkan kerugian terbesar berasal dari penipuan di Facebook. Platform tersebut mendominasi dibandingkan layanan lain, sementara WhatsApp dan Instagram menyusul di posisi berikutnya. Selain itu, total kerugian dari penipuan melalui pesan teks dan email masih kalah besar dibandingkan dana yang hilang melalui Facebook. FTC mencatat sekitar 30 persen laporan kerugian finansial bermula dari interaksi di media sosial. Para pelaku memanfaatkan kemudahan akses ke miliaran pengguna dengan biaya rendah. Mereka menjalankan berbagai taktik, mulai dari meretas akun, memanfaatkan data unggahan pengguna, hingga memasang iklan tertarget untuk menjaring korban berdasarkan minat dan kebiasaan. Meta Kembangkan Fitur Baru untuk Tekan Penipuan Menanggapi ancaman tersebut, Meta mulai menguji sejumlah fitur keamanan baru sejak bulan lalu. Perusahaan menghadirkan sistem peringatan permintaan pertemanan mencurigakan serta deteksi pesan berpotensi penipuan. Selain itu, Meta menambahkan perlindungan pada panggilan video WhatsApp dengan peringatan berbagi layar, serta fitur penyaring grup untuk mencegah pengguna masuk ke percakapan berisiko. Sepanjang 2025, Meta menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan dan menonaktifkan 10,9 juta akun terkait aktivitas kriminal. Kejahatan Siber Global Terus Meningkat Fenomena ini menjadi bagian dari tren kejahatan siber global yang semakin luas. Laporan Internet Crime 2025 dari FBI mencatat lebih dari 1 juta laporan dengan total kerugian mencapai USD 21 miliar atau sekitar Rp362 triliun. Jenis kejahatan yang paling sering terjadi meliputi penipuan investasi, kompromi email bisnis, kebocoran data, dan penipuan dukungan teknis. Oleh karena itu, FTC mendorong masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi informasi pribadi di media sosial dan melakukan verifikasi sebelum melakukan transaksi. Business penipuan media sosial AS