Waspada Ikan dan Makanan Laut Palsu, Pentingnya Teliti Saat Membeli Cahaya Cinta, March 12, 2026 FAO Mengingatkan Maraknya Pemalsuan Ikan dan Produk Makanan Laut di Pasar Global Jakarta – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan konsumen agar lebih teliti saat membeli ikan dan makanan laut. Lembaga tersebut menemukan bahwa praktik pemalsuan atau kecurangan dalam perdagangan seafood terjadi cukup luas di berbagai negara. FAO menyebut sekitar satu dari lima produk ikan dan makanan laut yang diperdagangkan di dunia berpotensi mengalami bentuk kecurangan tertentu. Informasi ini muncul dalam laporan yang disampaikan pada Februari 2026, sebagaimana dikutip dari The Star, Kamis, 26 Februari 2026. Laporan tersebut juga menyoroti bahwa industri perikanan dan akuakultur global bernilai sekitar 195 miliar dolar AS. Namun, sebagian transaksi dalam sektor ini diduga menjadi sasaran berbagai praktik penipuan, mulai dari pelabelan palsu hingga penggantian jenis ikan. Selain itu, risiko kecurangan meningkat ketika konsumen makan di restoran atau menggunakan layanan katering. Kondisi ini terjadi karena identifikasi visual ikan sering kali sulit dilakukan, terutama pada produk yang telah melalui proses pengolahan. FAO menilai faktor ekonomi menjadi pendorong utama munculnya praktik kecurangan tersebut. Pelaku berusaha memperoleh keuntungan lebih besar dengan mengganti produk mahal menggunakan bahan yang lebih murah. Pelaku Memalsukan Label dan Mengganti Spesies Ikan Demi Keuntungan Lebih Besar FAO juga mengungkap berbagai modus yang sering muncul dalam praktik penipuan makanan laut. Salah satu cara yang kerap terjadi adalah pelabelan jenis ikan yang tidak sesuai dengan produk sebenarnya. Contohnya, pelaku menjual salmon Atlantik dengan label salmon Pasifik untuk memperoleh keuntungan lebih tinggi. Perbedaan harga antara kedua jenis salmon tersebut dapat menghasilkan tambahan keuntungan hampir 10 dolar AS atau sekitar Rp168 ribu per kilogram. Selain itu, pelaku juga melakukan penggantian spesies secara langsung. Ikan yang lebih murah seperti nila kerap dijual sebagai kakap merah yang memiliki harga jauh lebih mahal dan lebih diminati konsumen. Praktik semacam ini sering terjadi karena konsumen sulit membedakan jenis ikan setelah produk dipotong, diolah, atau dimasak. Akibatnya, penipuan tersebut kerap luput dari perhatian pembeli. Pelaku Menggunakan Pewarna dan Bahan Pati untuk Meniru Produk Seafood Asli Selain mengganti jenis ikan, pelaku juga memanfaatkan bahan tambahan untuk membuat produk terlihat lebih segar atau menyerupai seafood asli. Misalnya, beberapa pedagang menggunakan pewarna agar ikan seperti tuna tampak lebih merah dan segar dari kondisi sebenarnya. Modus lain muncul melalui pembuatan produk imitasi. Udang palsu, misalnya, dapat dibuat dari campuran senyawa berbasis pati yang dibentuk menyerupai udang asli. Praktik serupa juga terjadi pada produk surimi yang dikemas agar terlihat seperti daging kepiting. Padahal, bahan tersebut berasal dari ikan yang telah diolah dan dibentuk ulang sehingga menyerupai produk yang lebih mahal. FAO menilai berbagai praktik tersebut membuat estimasi tingkat penipuan seafood secara global menjadi sulit dihitung secara pasti. Hal ini juga disebabkan oleh keragaman spesies makanan laut yang sangat besar. Dokter Mengingatkan Konsumen Memilih Ikan Segar dan Tidak Terpaku pada Produk Mahal Di sisi lain, para ahli kesehatan menilai konsumen tidak perlu selalu memilih ikan impor mahal untuk mendapatkan manfaat gizi. Dokter spesialis anak dari RS EMC Pekayon, dr. S. Tumpal Andreas C., M.Ked(Ped), Sp.A, menyebut ikan lokal juga memiliki kandungan nutrisi yang baik. Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis ikan lokal seperti gabus, lele, dan teri dapat memenuhi kebutuhan gizi anak dengan baik. Bahkan, bahan makanan tersebut lebih mudah diperoleh dan biasanya masih dalam kondisi segar. Menurutnya, ikan impor seperti salmon umumnya harus melalui proses pembekuan sebelum sampai ke Indonesia. Karena itu, kesegarannya tidak selalu lebih baik dibandingkan ikan lokal yang baru ditangkap. Pendapat serupa juga disampaikan dr. Reza Ervanda Zilmi, Sp.A dari RS EMC Cikarang. Ia menilai ikan lele memiliki kandungan lemak baik yang cukup tinggi dan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Para dokter juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan ultra processed seperti nugget, sosis, atau produk beku berbumbu. Meskipun berbahan dasar daging, makanan tersebut telah melalui banyak proses pengolahan dan mengandung berbagai bahan tambahan. Karena itu, konsumen disarankan memilih bahan makanan yang lebih alami dan segar untuk memperoleh manfaat gizi yang optimal. Business pemalsuan ikan dan makanan laut