Wisatawan Luar Palembang Diduga Jadi Korban Pemerasan Usai Buat Tato di BKB Cahaya Cinta, January 17, 2026January 22, 2026 Wisatawan Luar Palembang Mengaku Diperas Usai Membuat Tato Temporer di BKB Wisatawan Menceritakan Dugaan Pemerasan Saat Berwisata di Benteng Kuto Besak Seorang wisatawan dari luar Palembang diduga menjadi korban pemerasan setelah membuat tato temporer di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, Sumatera Selatan. Pengalaman tersebut viral di media sosial setelah korban membagikan curhatannya melalui akun pribadi. Kejadian itu berlangsung di area Dermaga Ampera, BKB, dan langsung memicu perhatian publik. Korban mengaku awalnya tertarik setelah ditawari jasa pembuatan tato temporer dengan harga sangat murah, yakni Rp 3.000. Tawaran tersebut membuat korban tidak menaruh curiga dan menyetujui pembuatan tato di lokasi wisata yang ramai pengunjung. Pelaku Meminta Pembayaran Naik Drastis Setelah Tato Selesai Dibuat Masalah muncul setelah proses pembuatan tato selesai. Korban menyebut penjual tato tiba-tiba meminta bayaran sebesar Rp 127.000, jauh dari harga awal yang disepakati. Korban merasa terkejut dan kecewa karena selain harga melonjak, hasil tato juga dinilai tidak sesuai harapan. Dalam unggahannya, korban mengaku merasa tertipu dan tertekan. Ia menyebut sempat terjadi cekcok dengan pembuat tato karena menolak harga yang dianggap tidak masuk akal. Namun situasi justru membuat korban semakin tidak nyaman karena tidak ada pedagang lain yang membantu, bahkan beberapa orang di sekitar lokasi ikut mendesak agar korban membayar. Korban Menemukan Banyak Kasus Serupa di Media Sosial Setelah kejadian tersebut, korban menelusuri media sosial dan menemukan banyak pengalaman serupa, khususnya di TikTok. Ia menyebut praktik dugaan pemerasan oleh pembuat tato di kawasan BKB bukanlah kejadian baru. Beberapa warganet bahkan mengaku harus membayar hingga ratusan ribu rupiah, bahkan ada yang mencapai Rp 1 juta dengan modus yang sama. Korban menilai praktik tersebut berpotensi merugikan wisatawan lain dan mencoreng citra Palembang sebagai kota tujuan wisata. Satpol PP Palembang Menyebut Kasus Masuk Ranah Pidana Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Palembang, Herison, menegaskan bahwa dugaan penipuan dan pemerasan tersebut telah masuk ranah tindak pidana. Ia menyebut penanganan utama menjadi kewenangan kepolisian, sementara Satpol PP dapat melakukan penertiban terhadap pelanggaran di kawasan wisata. Herison meminta korban untuk berani melapor agar proses hukum dapat berjalan. Ia menekankan tanpa laporan resmi dari korban, aparat kesulitan menindak pelaku. Pemerintah Kota Palembang berharap kejadian serupa tidak terulang demi menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan. Business wisatawan diperas tato BKB Palembang