Terjebak di Maroko, “Single Mom” Asal Bekasi Minta Dipulangkan ke Indonesia Cahaya Cinta, March 12, 2026 Single Mom Asal Bekasi Minta Dipulangkan ke Indonesia Setelah Terjebak di Maroko Seorang perempuan asal Kota Bekasi, Lely R (33), meminta bantuan untuk dipulangkan ke Indonesia setelah tertahan di Maroko. Kisahnya menjadi perhatian publik setelah video permohonannya beredar luas di media sosial. Unggahan mengenai kondisi Lely pertama kali viral melalui akun Instagram @radar_bekasi. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa perempuan asal Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, itu telah berada di penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Maroko sejak Sabtu, 14 Februari 2026. Saat dihubungi pada Rabu (11/3/2026), Lely menjelaskan bahwa ia berangkat ke Maroko untuk bekerja setelah menemukan informasi lowongan kerja luar negeri melalui akun Thread @bjulie46_id. Ia mengaku tertarik karena kondisi ekonomi yang mendesaknya sebagai orang tua tunggal. Lely mengatakan ia harus menanggung kebutuhan anak sekaligus membantu orang tuanya. Kondisi tersebut membuatnya merasa penghasilan di Indonesia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lely Mengikuti Proses Rekrutmen Kerja yang Ia Temukan di Media Sosial Setelah melihat lowongan tersebut, Lely langsung menghubungi akun yang memposting informasi pekerjaan itu. Selanjutnya, ia diarahkan untuk berkomunikasi dengan seorang pria asal Maroko bernama Yassin. Pria tersebut kemudian mengatur proses wawancara antara Lely dan calon majikan pada akhir Desember 2025. Setelah wawancara selesai, Lely menerima tiket perjalanan pada 14 Januari 2026 dengan jadwal keberangkatan menuju Maroko pada 18 Januari 2026. Sebelum berangkat, Lely mendapat penjelasan bahwa seluruh dokumen kerja akan diurus oleh agen yang dikenalnya melalui media sosial. Agen tersebut juga menyampaikan bahwa pembuatan kartu identitas kerja akan dilakukan setelah ia tiba di Maroko bersama majikan. Namun, setelah tiba di negara tujuan, Lely baru mengetahui bahwa visa yang ia gunakan ternyata hanya visa kunjungan dengan masa berlaku 90 hari. Lely Mengalami Perubahan Pekerjaan dan Kondisi Kerja yang Tidak Sesuai Janji Setelah mulai bekerja, Lely merasa terkejut karena pekerjaan yang diberikan berbeda dari kesepakatan awal. Sebelumnya, ia dijanjikan bekerja sebagai pengasuh bayi atau nanny. Pada kenyataannya, ia harus merangkap sebagai asisten rumah tangga sekaligus merawat salah satu anak majikan yang memiliki kebutuhan khusus. Beban pekerjaan yang bertambah membuat situasi kerja menjadi sulit. Ketegangan antara Lely dan majikannya akhirnya memicu perselisihan. Setelah konflik tersebut, majikan memutuskan mengembalikannya kepada agen. Sekitar sepekan kemudian, agen menempatkan Lely di rumah majikan lain. Namun, penempatan itu hanya berlangsung satu hari karena majikan kedua mengaku tidak cocok dengan pekerjaannya. Lely Menghubungi Pelajar Indonesia dan Mendatangi KBRI Maroko Setelah meninggalkan tempat kerja tersebut, Lely pergi menuju terminal dan berinisiatif mencari bantuan. Ia kemudian menghubungi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Maroko untuk meminta arahan. PPI selanjutnya mengarahkan Lely agar mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Maroko. Sejak saat itu, ia tinggal di penampungan KBRI sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia. Selain persoalan pekerjaan, Lely juga mengungkapkan bahwa gaji yang ia terima tidak sesuai dengan janji sebelum keberangkatan. Ia sebelumnya dijanjikan upah sekitar Rp 8 juta per bulan. Namun dalam kenyataannya, ia hanya menerima sekitar Rp 5 juta selama bekerja di Maroko. Business single mom Bekasi terjebak di Maroko