Hati-hati Fake BTS Lewat HP, Kenali Mekanisme Penipuan di Baliknya Cahaya Cinta, January 8, 2026 BPKN Mengingatkan Maraknya Penipuan Fake BTS Lewat Ponsel Modus penipuan menggunakan fake Base Transceiver Station atau BTS palsu kembali marak dan terus memakan korban di berbagai daerah. Pelaku memanfaatkan perangkat BTS ilegal untuk mengirimkan pesan singkat palsu langsung ke ponsel korban tanpa melalui sistem operator resmi. Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Heru Sutadi, menilai kejahatan ini berkembang pesat karena perangkat fake BTS relatif murah, mudah dirakit, dan belum diawasi secara ketat. Kondisi tersebut membuka celah besar bagi pelaku untuk menyebarkan sinyal palsu dan menipu masyarakat. Pelaku Mengoperasikan Fake BTS Secara Mobile untuk Menghindari Pelacakan Heru menjelaskan pelaku penipuan mengoperasikan fake BTS secara berpindah-pindah lokasi, sering kali menggunakan kendaraan. Pola ini membuat aparat dan operator seluler kesulitan mendeteksi sumber sinyal palsu karena tidak menetap di satu titik dalam waktu lama. Pergerakan yang dinamis tersebut mempersempit ruang pengawasan teknis. Akibatnya, pesan singkat palsu dapat menyebar luas sebelum pihak berwenang menyadari keberadaan jaringan ilegal tersebut. Lemahnya Regulasi dan Rendahnya Literasi Memperparah Risiko Penipuan Heru menilai belum adanya regulasi ketat dari pemerintah dan operator seluler memperparah penyebaran fake BTS. Di sisi lain, tingkat literasi digital masyarakat yang masih rendah membuat banyak korban mudah percaya pada SMS yang tampak berasal dari institusi resmi. Pesan penipuan umumnya tidak melalui proses verifikasi, namun tetap dipercaya karena menggunakan identitas pengirim yang menyerupai bank atau perusahaan besar. Kondisi ini memberi ruang leluasa bagi pelaku untuk mencuri data pribadi dan menguras rekening korban. Pelaku Memanfaatkan Jaringan 2G untuk Mengirim SMS Phishing Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan pelaku fake BTS memanfaatkan jaringan 2G yang masih aktif sebagai jalur distribusi SMS. Mereka memasang perangkat BTS palsu dengan daya pancar kuat hingga radius 500 sampai 1.000 meter. Dengan sinyal yang lebih kuat, ponsel korban otomatis terhubung ke jaringan palsu tersebut. Setelah koneksi terkunci, pelaku mengirim SMS massal menggunakan sender ID palsu dengan narasi mendesak yang berisi tautan berbahaya. Pesan tersebut bertujuan mencuri data sensitif, termasuk informasi pribadi dan kode one time password. Alfons menegaskan mekanisme ini bekerja tanpa disadari korban karena ponsel tidak menampilkan peringatan khusus saat berpindah ke jaringan palsu. BPKN Mendorong Penguatan Regulasi dan Edukasi Publik BPKN mendorong pemerintah dan operator seluler segera memperkuat regulasi serta sistem pengawasan jaringan. Di saat yang sama, Heru menekankan pentingnya edukasi publik agar masyarakat lebih kritis terhadap SMS yang mengatasnamakan institusi resmi. Business