Mulai Investasi Saham Sejak Usia 17 Tahun, Cerita Najla Belajar Risiko di Tengah Maraknya Kelas Online Cahaya Cinta, February 2, 2026February 5, 2026 Najla Memulai Investasi Saham Sejak Usia 17 Tahun dan Belajar Risiko di Tengah Maraknya Kelas Online Najla Mengenal Saham Sejak SMA dan Mengambil Keputusan Investasi Pertama SEMARANG – Najla mulai mengenal dunia investasi saham saat masih duduk di bangku SMA. Pada 2022, ketika usianya baru 17 tahun, ia memutuskan membeli saham pertamanya dengan modal Rp 200 ribu. Keputusan tersebut ia ambil karena menilai saham lebih terjangkau dibandingkan instrumen investasi lain seperti emas atau obligasi. Seiring berjalannya waktu, Najla tidak hanya merasakan potensi keuntungan, tetapi juga menghadapi risiko kerugian. Pengalaman itu membentuk pemahamannya bahwa investasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan proses belajar yang menuntut kesabaran dan pengetahuan. Kini, sebagai mahasiswi semester delapan di Semarang, Najla mengaku lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Minat Investasi Anak Muda Meningkat Seiring Maraknya Kelas Saham Online Cerita Najla mencerminkan meningkatnya minat generasi muda Indonesia terhadap investasi saham. Kemudahan akses aplikasi sekuritas dan maraknya kelas saham online mendorong anak muda untuk masuk ke pasar modal sejak dini. Namun, tren tersebut juga diiringi munculnya berbagai modus penipuan yang menyasar investor pemula. Beragam kelas saham di platform seperti WhatsApp dan Telegram kerap menawarkan janji keuntungan besar dalam waktu singkat. Beberapa pihak mengaku sebagai analis profesional, memanfaatkan identitas palsu sekuritas, hingga menjual kelas edukasi berbayar yang mendorong pengambilan keputusan tanpa transparansi yang memadai. Akademisi Mengingatkan Risiko Investasi Berkedok Edukasi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Salatiga sekaligus praktisi perbankan dan pasar modal, Asih Yusticia, mengingatkan anak muda agar tidak mudah percaya pada tawaran investasi, meskipun datang dari figur publik atau influencer. Ia menilai fenomena flexing kerap digunakan sebagai alat persuasi untuk membangun citra trader sukses di usia muda. Asih mencontohkan kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan yang memanfaatkan gaya hidup mewah dan narasi cuan instan. Pola serupa, menurutnya, juga muncul dalam kasus investasi kripto berbasis komunitas yang menyeret sejumlah nama publik. Banyak investor muda akhirnya masuk karena takut tertinggal tren, bukan karena memahami risiko dan fundamental instrumen investasi. Najla Menjadikan Pengalaman Sebagai Bekal Literasi Finansial Melalui pengalamannya, Najla belajar memilah informasi dan tidak mudah tergiur janji keuntungan cepat. Ia menilai edukasi investasi seharusnya mendorong nalar kritis, bukan sekadar mengikuti arahan satu figur. Bagi Najla, memahami risiko menjadi bekal penting agar investasi tetap sejalan dengan tujuan keuangan jangka panjang. Business investasi saham anak muda